Monday, November 17, 2025

Kiprah Pendamping Desa di Pedalaman Mahakam Ulu: Bekerja di Antara Sungai, Hutan, dan Keterbatasan

 

'MAHAKAM ULU — Di salah satu kabupaten terluar Kalimantan Timur, para tenaga Pendamping Profesional Desa (TPP) bekerja dalam kondisi yang tak banyak disadari publik. Medan berat, akses minim, dan jarak antarkampung yang jauh menjadi tantangan harian bagi para pendamping yang bertugas mengawal pembangunan desa di Mahakam Ulu.

Kabupaten yang berada di hulu Sungai Mahakam ini memiliki bentang alam yang ekstrem: sungai berjeram, tebing curam, serta kampung-kampung kecil yang tersebar di antara hutan tropis. Di wilayah seperti Tiong Ohang, Long Apari, Long Pahangai, Long Hubung, Ujoh Bilang, hingga kampung-kampung di Long Bagun, pendamping desa harus menempuh perjalanan berjam-jam menggunakan perahu ketinting atau speedboat.

Pada musim kemarau, perjalanan terhambat karena air surut, sementara pada musim hujan, arus deras membuat perjalanan tidak kalah berbahaya. Kondisi ini membuat pendamping desa harus menyesuaikan diri dengan pola transportasi masyarakat lokal.

Kekurangan Personel di Medan Sulit. Dalam beberapa tahun terakhir, Kalimantan Timur tercatat mengalami kekurangan ratusan tenaga pendamping profesional, termasuk 15 Pendamping Lokal Desa (PLD) di Mahakam Ulu. Kekurangan ini membuat sebagian pendamping harus menangani lebih banyak kampung daripada standar ideal.

Meski demikian, pekerjaan di lapangan tetap berjalan. Pendamping desa, pendamping teknis, dan PLD menjadi garda terdepan dalam membantu aparat kampung menyusun dokumen perencanaan, mengelola dana desa, hingga menggerakkan partisipasi warga.

Peran Strategis Pendamping di Pedalaman. Kualifikasi pendamping profesional di Kalimantan Timur memerlukan keahlian teknis sekaligus kedekatan sosial dengan masyarakat. PLD, misalnya, diwajibkan memahami adat istiadat lokal, mampu berkomunikasi dalam bahasa daerah, serta bersedia tinggal di wilayah pendampingan dalam waktu lama.

Peran pendamping di Mahakam Ulu tidak hanya sebatas fasilitasi musyawarah desa. Mereka juga terlibat dalam penyusunan Rencana Kerja Pemerintah Kampung (RKP), pembuatan gambar teknis infrastruktur, penyusunan RAB, hingga mendampingi pembentukan dan penguatan BUMDes. Dalam banyak kasus, pembangkit listrik desa yang terbatas memaksa pendamping bekerja pada malam hari ketika genset dinyalakan.

Cerita dari Lapangan: Bertaruh Waktu dan Tenaga. Kondisi geografis yang sulit membuat banyak pendamping harus mengambil langkah ekstra. Beberapa PLD mengaku harus berjalan kaki melewati bukit ketika akses sungai tertutup longsor. Ada pula pendamping wanita yang memilih menetap tiga sampai lima hari di kampung terpencil karena transportasi pulang-pergi tidak memungkinkan.

“Kadang kami harus menunggu air naik dulu. Bisa dua sampai tiga jam di dermaga,” ujar seorang pendamping lokal yang bertugas di Long Pahangai. Pendamping lainnya menceritakan bagaimana mereka sering tidur di balai adat karena tidak ada penginapan di kampung. “Yang penting masyarakat bisa bermusyawarah. Itu tugas kami,” katanya.

Pendampingan Berbasis Potensi Kampung. Dalam beberapa program, seperti pelatihan rencana pembangunan kampung yang didukung USAID Segar, pendamping membantu kampung-kampung di Long Bagun, Long Hubung, dan Long Pahangai mengidentifikasi potensi ekonomi lokal. Mulai dari rotan, sagu, madu hutan, hingga kerajinan tangan berbasis budaya Dayak.

Pendamping lokal menjadi fasilitator utama agar perencanaan kampung tidak hanya berbasis kebutuhan jangka pendek, tetapi juga potensi jangka panjang yang berkelanjutan. Mereka membantu masyarakat menyusun prioritas program, menempatkan partisipasi warga sebagai inti pembangunan.

Apresiasi Pemerintah Daerah. Pemerintah Kabupaten Mahakam Ulu memberikan apresiasi khusus kepada para pendamping yang terus bekerja dalam kondisi terbatas. Dalam beberapa pertemuan resmi, Bupati menegaskan bahwa pendamping memiliki peran vital dalam memastikan perencanaan kampung berjalan secara partisipatif dan sesuai regulasi. semoga tahun depan Pemerintah Kabupaten Mahakam Ulu turut membantu pendampingan yang dilakukan para pendamping desa.

Di Garis Depan Pembangunan Terluar. Di tengah keterbatasan infrastruktur dan medan yang menantang, pendamping desa tetap menjalankan tugasnya. Mereka menjadi penghubung antara kebijakan pemerintah dan realitas kampung-kampung pedalaman. Mereka juga menjadi pendengar pertama aspirasi masyarakat dan saksi langsung dinamika sosial ekonomi yang berlangsung di daerah terluar Kalimantan Timur.

Meski jarak jauh dan akses serba terbatas, pekerjaan para pendamping desa menunjukkan bahwa pembangunan tidak hanya bertumpu pada anggaran, tetapi juga komitmen manusia. Di Mahakam Ulu, komitmen itu tampak nyata: dari sungai ke sungai, dari kampung ke kampung, para pendamping terus bekerja untuk memastikan setiap desa memiliki kesempatan yang sama untuk maju.