Tuesday, October 14, 2025

Indeks Desa Membangun dan Desa di Kalimantan Timur: Pemantauan dan Dampaknya dalam 5 Tahun Terakhir


Samarinda, Oktober 2025.                                                       
Indeks Desa Membangun (IDM) adalah sebuah indikator  komposit yang digunakan untuk mengukur tingkat kemajuan dan  kemandirian suatu desa. Indikator ini didasarkan pada tiga  komponen utama: Indeks Ketahanan Sosial (IKS) – misalnya  akses pendidikan, kesehatan, fasilitas sosial, keamanan sosial.
Indeks Ketahanan Ekonomi (IKE) – termasuk sumber pendapatan desa, kesempatan kerja, pengelolaan ekonomi lokal, pendapatan  per kapita. Indeks Ketahanan Lingkungan/Ekologis (IKL) – kondisi lingkungan, akses air bersih, pengelolaan limbah, serta infrastruktur dasar yang ramah lingkungan. 
Status desa berdasarkan skor IDM dibagi ke dalam lima kategori: 

Tujuan utama pendataan IDM adalah agar pemerintah daerah dan desa memiliki gambaran objektif mengenai kondisi desa, mulai dari aspek sosial, ekonomi, dan lingkungan. Dengan data ini, desa bisa merencanakan intervensi pembangunan yang lebih tepat sasaran, serta prioritas penggunaan sumber daya, baik dari dana desa, bantuan provinsi, ataupun melalui sinergi lintas sektor.

Dari pengamatan dalam 5 tahun terakhir, beberapa pengaruh positif yang dapat diidentifikasi dari penerapan dan pemutakhiran IDM di Kalimantan Timur adalah: Perencanaan yang lebih terarah dan berbasis data. Desa-desa yang statusnya tertinggal atau memiliki skor rendah menjadi semakin sadar akan kelemahan mereka (misalnya, akses kesehatan, sekolah, fasilitas air bersih, infrastruktur jalan). Dengan data IDM, desa dapat menyusun rencana aksi pembangunan yang mengincar aspek-aspek yang lemah agar terjadi lonjakan status. Contohnya, “bedah IDM” dilakukan di Kutai Timur untuk mengidentifikasi titik lemah dan merancang intervensi. 

Sinergi antar pemangku kepentingan. Untuk mempercepat kenaikan status desa, Pemerintah Kabupaten/Provinsi dan OPD (organisasi perangkat daerah) terlibat, juga perangkat desa, masyarakat desa, serta lembaga pendamping. Kolaborasi ini mempercepat realisasi intervensi, misalnya dalam Mapulu, lintas sector dilibatkan untuk menyediakan fasilitas layanan dasar dan infrastruktur yang dibutuhkan. Pengurangan desa tertinggal dan sangat tertinggal. Data menunjukkan bahwa desa yang semula berada di kategori tertinggal/sangat tertinggal jumlahnya terus mengecil. Beberapa desa berhasil naik status ke berkembang, maju, bahkan mandiri. Peningkatan layanan dasar dan kesejahteraan sosial.Faktor-faktor seperti kesehatan, pendidikan, akses fasilitas sosial menjadi prioritas setelah identifikasi melalui IDM. Misalnya pelatihan untuk pelaku pembangunan desa tentang SDGs Desa, pemutakhiran data, dan monitoring evaluasi. Ini berdampak pada peningkatan IPM provinsi, karena dimensi kesehatan, pendidikan, dan standar hidup layak mengalami kenaikan. Motivasi dan kompetisi positif antar desa/kabupaten terjadi dalam perbaikan peencanaan berbasis Indesk Desa Membangun, Desa yang berhasil naik status sering menjadi contoh bagi desa lain, mendorong inisiatif lokal yang lebih kreatif dalam penggunaan dana desa dan sumber daya lainnya. Pemerintah Kaltim juga menetapkan target jumlah desa yang statusnya meningkat dalam tiap periode, sehingga ada kerangka pengukuran yang jelas disetiap tahunnya menjadi target pemerintah provinsi untuk menanikan status desanya.